Seperti biasanya, nafsu selalu naik kalo lihat buku² baru apalagi ada embel2nya best seller, padahal inti utama berkunjung ke book store hanya pengen beli bukunya Om Khaled sekalian ‘cuci mata’, tapi nafsu membuka segel seabreg buku ga juga bisa direm. Alhasil, 5 buah buku sukses lepas dari bungkusnya, meski melakukan aksi ini harus jauh2 dari jangkauan pak satpam dan mbak pelayan toko buku, kalo ga pengen ditegur di tempat.
Ada sedikit rasa bersalah saat menelanjangi mereka, meski aku tahu ga ada peringatan di atas rak yang menyebutkan ‘Membuka segel berarti membeli’, hanya sebuah tulisan “pelaku tindak pencurian akan ditindak secara hukum’, jadi aku pikir sah-sah saja membedah kulit luarnya, untuk meminimalkan rasa kecewa sebelum terlanjur membeli. Tapi ujung2nya, tetap aja mantap beli Pengejar Layang-Layang, meski pengen beli To Kill a Mockingbird dan The Pillars of the Earth-nya Ken Follett.
Belum begitu banyak yg bisa aku ambil dari buku karya imigran Amerika keturunan Afgan ini, baru baca dua bab, udah keduluan bikin liur di bantal. Tapi dari comen² yg tertulis di cover dan di bagian dalamnya, novel ini terasa begitu powerfull, stunning, vivid, startling, dan a haunting morality tale (USA Today).
*rush to go home*
Hehehe, telat tayang ;))
Perjalanan kembali dari mudik sama seperti yang dulu-dulu, selalu lebih panjang karena mampir-mampir dulu ke beberapa tempat.
Dari Demak aku berangkat jam setengah 9 pagi, menuju ke rumahnya Yuyun di Kediri. Melewati jalan yang sama dengan yang aku lewati sewaktu mudik. Melewati Nganjuk dan mampir sebentar ke rumah Dwi di Tulungagung.
Saat hampir keluar dari Tulungagung sempat bertemu pengendara Tiger dari IMTY (Ikatan Motor Tiger Yogyakarta), dengan pelat nomor AB. Tapi saat aku jejeri dia lalu aku klakson, eh dianya cuek aja. Cape deh. Mungkin sibuk dengan cewek di boncengannya.
Akhirnya dari Tulungagung sampai masuk kota Kediri kita salip-salipan, tapi bukan ngebut. Setiap aku pelan dia lalu nyalip aku, berikutnya aku salip dia. Ketika sudah di dalam kota, dia ngilang entah ke mana.
Sampai Kediri sudah malam, jam setengah tujuh, aku putuskan menginap di rumahnya Yuyun dulu.
Besoknya setelah sholat Jum'at, aku bersama Yuyun menuju ke Mojokerto, pake sepeda motor masing-masing. Perjalanan sekitar 1 jam setengah, yang menurutku sangat cepat. Selain karena jalanan yang masih sepi, juga karena jalan antara Jombang dan Mojokerto sudah mulus. Gak seperti tahun 1992 - 2000an, yang selalu dibangun karena pasti rusak, yang selalu macet, penuh batu dan debu.
Di Mojokerto kita ke rumah Sony, cangkrukan sampai jam 9-an malam.
Perjalanan pulang ke Malang dipenuhi rasa capek dan kantuk. Ketika keluar dari daerah Mojosari aku sempat nyerempet kucing yang nyebrang jalan sembarangan. Untung dia masih sempat berlari keluar jalan.
Istirahat sebentar di SPBU sewaktu Yuyun ngisi bensin di daerah Pandaan. Jam 11-an kita sudah masuk ke kota Malang.
Kita mampir sebentar di warung gorengan di TT77, minum Es Soda Gembira. Karena saking ngantuknya aku malah sempat memecahkan sebuah lepek.
Terakhir, pulang dan tidur.
Di Gunungkidul wilayah yang oleh para kuli tinta termasuk daerah kering(sering terjadi kekeringan) menyimpan berbagi tempat wisata yang menjanjikan jika dikelola secara profesioanal, Tempat wisata mulai dari Gua-gua, waduk, sampai dengan Pantai yang tersebar di sepanjang pesisir kabupaten Gunungkidul, bagi kalayak ramai mungkin hanya tau sebagian kecil dari pantai-pantai di Gunungkidul, semisal Baron, Krakal, Kukup. Lebih dari pantai panti itu di Gunungkidul terpadat pantai pantai lain yang mulai mendapat tempat bagi wisatawan lokal, mulai pantai Wedi Ombo, Ngrenehan, Ngobaran, Ngliyep dan lain sebagainya. Namun kali ini saya ini menceritakan pantai yang lain lagi, yaitu Pantai Gesing. Pantai Gesing yang merupakan daerah baru dan sering disebut Pantai Prawan (karena belum tersentuh para pebisnis).
Pantai gesing ini sungguh asri dan juga lumayan kecil, tidak seperti pantai pantai lain di Gunungkidul, letaknya pun di daerah cekungan(teluk) lebar dari dari pantai ini tak lebih dari 200m, tapi pantai ini sering menghasilkan ikan yang ‘mantap kali’ yang tidak terdapat di pantai lain (Ngrenehan, Sadeng, Baron dan pantai lain lain). Pada kamis itu, kami sekeluarga(Syahida Family) naik kendaraan roda dua mencoba menjelajah Pantai Gesing ini, perjalanan sampai menjelang 5km terakhir berjalan dengan mulus, akan tetapi pada 5km terkahir perjalanan agak terganggu karena berdasar informasi yang kurang akhurat ternyata Jalan menuju pantai sedang mengalami perbaikan, masih berupa jalan MAKADAM(batu yang ditata sedemikian rupa untuk nantinya dijadikan BASIC jalan) atau istilah lain dari makadam adalah kali asat ![]()
Karena sudah lebih dari 3/4 perjalanan dan udah nanggung akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan dengan sedikit susah dan payah. Ketika tiba di pantai Gesing ternyata para nelayan tidak ada yang mencari ikan dengan argumen ombak terlalu tinggi, sehingga perburuan ikan untuk dijadikan makan siang mengalami kegagalan, yo wis akhirnya kita leyeh leyeh sebentar di pantai itu, untuk kemudian kita cari alternatif lain dan tertuju ke Ngrenehan dan Ngobaran, jadi akhirnya dari 9 team sepeda motor dibagi dua, team pertama mencari/membeli ikan di ngrenehan dan team lain ke pantai ngobaran.
Jarak antara ngrenehan dan ngobaran tidak terlampau jauh sekitar 1-2km, di pantai ini(ngobaran) walaupun bisa dibilang sudah tidak virgin lagi, akan tetapi suasana dan juga wilayahnya masih asri dan layak dijadikan agenda taunan
dan berikut sedikit scrin shoot kejadian di Gesing dan Ngobaran.
Terima Kasih buat Wartawan Kompas (KUM) Heru Sri Kumoro atas pengabadian momen momen ini ![]()







Tak Lupa Nurudin Jauhari mengucapkan Taqobbalallohu minna wa minkum semoga amal ibadah kita di terima dan kita diperkenankan bertemu dengan Ramadhan ditaun depan
Pas jalan masuk sampe mejanya si pw berserakan daun² kering, debu, bungkus permen, kue, koran dan tabloid jumpalitan di beberapa meja dan sofa, isi sampah di bawah papan pengumuman dah berebutan mau keluar, persis di sebelah papan pengumuman tergantung handuk warna biru. Sempet mikir sapa sih yg naruh handuk di situ, harusnya khan ditaruh di belakang, usut punya usut ternyata handuknya si Ipank yg emang nginep di kantor waktu lebaran.
Segera beranjak ke dapur, niat mau ambil sulak bulu ayam buat berisihin meja + PC, ambil mug dan sekalian pee. Gila! ternyata dapur lebih ancur lagi. Bekas bungkus makanan berserakan di lantai, gara² keranjang sampah dah ga muat lagi, bau makanan basi *mual*, piring, garpu, sendok, tumplek blek di tempat cucian, dan yang paling parah, Mug kesayanganku lengket bekas kopi, ga tau habis dipake siapa, yang jelas kondisinya jadi mengenaskan, item di bagian dasarnya, jadi kudu cuci berulang2, sampe bersih dan ilang nodanya.
Duh, kalo gini kita bener² kangen buk nah. Kapan ya balik.
Aku berbenah dengan cepat, masukkan 2 baju + 4 kaos + 2 celana + laptop + etc ke tas ransel, dan setelah shubuh, kita bertiga mulai berangkat. Aku dibonceng si Wamir pakai motorku, dan Yuyun naik motornya sendiri. Sekitar jam 4 lebih seperempat kita sudah keluar perumahan Joyogrand.
Jalanan yang lengang memang melancarkan perjalanan, tapi kewaspadaan justru harus lebih meningkat. Terbukti, setelah melewati terminal Landungsari, memasuki daerah Pendem, ada sepeda motor yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang, beberapa meter di depan kita, dan langsung nyebrang jalan. Kita yang sedang melaju kencang, tentu saja kelabakan dengan kejutan itu. Terutama si Yuyun yang ada di posisi depan, nyaris saja. Untung dia lahir di sepeda motor, jadi bisa menguasai laju motornya, dan bisa melewati si orang ngawur itu.
Mungkin orang itu masih ngantuk.
Berangkat pagi juga berarti harus siap menjadi pembuka jalan. Saat melewati kawasan Pujon dan Ngantang, jalanan masih ditutupi embun pagi, yang membuat jalanan basah dan kayaknya licin. Terutana karena jalanan yang mirip huruf S, kadang-kadang huruf Z, atau kadang juga mirip angka 8. Ngeri juga dibonceng sama Wamir di jalan itu. Setiap dia miringkan sepeda untuk belok di tikungan tajam, otomatis aku menyeimbangkan diri, berlawanan dengan arah miringnya. Ini hal yang berbahaya sebenarnya, seharusnya aku ikut saja arah gerakannya. Tapi namanya juga takut, jadi refrek aja.
Greenland merupakan nama tempat yang berada di negara bagian Amerika Serikat yang sampai sekarang adalah tempat yang benar-benar terjaga keindahan alamnya walaupun letaknya hampir dibelahan bumi utara. semua pasti berharap agar bumi yang kita tempati menjadi hijau dan tetap alami seperti adanya Greenland. Save Our Planet karena kita hanya hidup sekali kalaupun bumi rusak maka kita akan merasakan akibatnya yaitu yang terasa sekarang adalah pemanasan global, iklim yang tidak dapat ditebak serta banyaknya hewan-hewan yang mendekati punah.
Ada dua kata yang manusia sering mengucaplan dengan mudah yaitu "maaf" dan "sabar", sedangkan ada dua hal yang manusia sangat berat untuk melakukannya yaitu menjadi "Pemaaf" dan "Penyabar", sesungguhnya adalah orang bijak yang bisa melakukan dua hal tersebut. Minal Aidzin Walfa Idzin Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat Hari Lebaran
