Jawa Timur akan mengadakan perhelatan demokrasi. Pemilihan gubernur secara langsung untuk pertama kalinya akan segera dilaksanakan. Pada hari ini, masa kampanye telah dimulai. Banyak yang menyatakan bahwa pemilihan gubernur Jawa Timur ini paling seru dibandingkan pemilihan gubernur daerah lain. Tidak tanggung-tanggung sebanyak lima pasang calon gubernur dan wakil gubernur akan saling adu program. Bukan hanya program, strategi jitu mendulang suara rakyat juga dipertaruhkan. Tidak cukup itu, adu untung alias nasib menjadi faktor tak kalah pentingnya juga. Terakhir adu apalagi kalau bukan adu uang. Tidak ada yang gratis di bumi ini suadaraku. Kaos, iklan televisi sampai poster sederhana itu perlu uang bukan?
Hasil pengundian nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur sebagai berikut :
1. Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KAJI)
2. Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR)
3. Soenarjo-Ali Maschan Moesa (SALAM)
4. Achmady-Suhartono (ACHSAN)
5. Soekarwo-Syaifullah Yusuf (KARSA)
Meskipun saya bukan pengamat politik, berikanlah saya kesempatan untuk mencoba memberikan analisis pilkada Jawa Timur ini. Tentu dengan kaca mata saya, bukan kaca mata anda atau kaca mata mereka. Kira-kira siapa yang bakal menjadi pemenang?
Menurut saya, ada tiga kandidat yang telah mengantongi modal awal cukup besar. Soekarwo, Soenarjo dan Sutjipto (S3 seperti halnya Sluman Slumun Slamet :D). Soekarwo telah lama membangun citra dengan iklan pakde-nya. Karwo memang memilih panggilan pakde untuk memberi kesan berwibawa, apalagi kumis yang cukup lebat di wajahnya, semakin menambah kesan gagah dan berwibawa. Pakde Karwo telah lama didengungkan, bahkan sejak lama saya sudah menduga bahwa Karwo akan maju Pilgub. Walaupun bukan orang parpol, pengalamannya sebagai Sekdaprov cukup meyakinkan. Tidak heran PAN dan Partai Demokrat bersedia mengusung Karwo sebagai cagub. Oh, ya Pakde Karwo juga mejeng di friendster lho!
Soenarjo, dalang dan politisi Golkar ini telah menjabat sebagai wakil gubernur. Mesin politiknya telah tertata dengan rapi. Namun pengalaman kekalahan pasangan yang diusung Golkar pada beberapa pilkada perlu menjadi bahan evaluasi.
Sutjipto, apa lagi kalau bukan mengandalkan basis massa PDI-P. Sayang jalan Sutjipto mendapatkan tiket dari PDI-P tidak mulus. Sutjipto “hanya” mendapat hadiah tiket dari Megawati saja. Mengapa? Konvensi antara cabang PDI-P se-Jatim, justru nama Soekarwo muncul sebagai pemenang dengan dukungan 22 DPC dari 38 DPC. Tapi semua tahu, jasa Soetjipto pada sang ibu begitu besar. Saya memperkirakan akan banyak massa PDI-P yang justru “sakit hati” dan tetap mempertahankan pilihannya pada Karwo. Terutama pada tingkat akar rumput.
Bagaimana dengan Achmady yang didukung oleh PKB? Ah, entahlah. Saya tidak pernah dengar nama Achmady sebelumnya. Siapa sih dia? Ternyata Achmady adalah Bupati Mojokerto. Bukannya saya sentimen dengan Achmady, Gus Dur atau PKB. Jujur saya tidak kenal dan tidak pernah dengar nama Achmady dalam kancah perbloggingan perpolitikan. Sulit bagi Achmady untuk menang. PKB sendiri sedang asyik berkelahi dan berkelahi.
Kuda hitam? Ah bukan hanya euro saja yang mengenal kuda hitam. Pilgub Jatim ini juga ada kuda hitamnya. Khofifah, sosok yang muncul belakangan ini justru yang mampu menyita perhatian publik dibandingkan Achmady. Walaupun dengan tiket hasil sumbangan banyak partai yang kebanyakan non parlemen, tapi langkah Khofifah sedemikian terasa gregetnya. Jaringan aktivis perempuan NU ada di genggamannya. Khofifah, saya melihat penampilannya pertama kali ketika saya SMA. Waktu itu Khofifah masih berteduh dibawah bendera PPP (partai yang kini mengusungnya sebagai cagub), pada saat Sidang Umum MPR 1998. Seingat saya sore hari, di televisi saya menyaksikan dan menyimak pidato pandangan fraksi PPP. Hebat! Gaya bicaranya berani dan meyakinkan. Sangat berani, pada masa itu! Kisah pidatonya dapat anda simak disini!
Analisis final saya menyimpulkan, ah ini bukan analisis tapi ramalan bin prediksi! Soekarwo yang bakal menang! Achmady kayaknya nggak banget deh! Kita tunggu saja hasilnya setelah 23 Juli 2008 nanti!
Pada hari yang sama pula warga Kota Malang akan memilih wali kota dan wakil wali kotanya. Pesan saya, perubahan telah terjadi, ijo royo-royo telah berubah menjadi ijo ruko-ruko, zona pendidikan menjadi zona niaga, ruang terbuka hijau kian menipis, apakah masih perlu dilanjutkan?
Oh, ya. Saya sendiri bakal memilih siapa? Entahlah… Semoga Pilkada Jawa Timur aman dan damai. Semoga anggota KPU Jawa Timur pandai berhitung, tidak seperti anggota KPU Maluku Utara, yang berhitung saja mereka tak mampu.

