Makan adalah kebutuhan pokok manusia, makanya anda tentu sering mendengar istilah sandang, pangan dan papan bukan. Bahkan beberapa model pengukuran kemiskinan juga menggunakan “pendekatan makanan” sebagai salah satu indikator. Sebut saja Sajogyo
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}yang menyatakan apabila seseorang yang tinggal di daerah pedesaan mengkonsumsi ekuivalen beras kurang dari 240 kg per orang per tahun, maka yang bersangkutan digolongkan sangat miskin. Sedangkan untuk daerah perkotaan ditentukan sebesar ekuivalen 360 kg beras per orang per tahun.
Kedudukan warga negara pun sama di dalam hukum dan pemerintahan. Bahkan hakikat manusia di hadapan Tuhan adalah sama kedudukannya, hanya amal ibadah semata yang menjadi pembeda. Sehingga rakyat kaya atau miskin, bangsawan atau jelata, mempunyai hak dan kesempatan yang sama di segala bidang kehidupan. Bagaimana dengan wisata kuliner? Ya, rakyat jelata juga mempunyai kesempatan yang sama dalam berwisata kuliner. Mereka tetap dapat menikmati kemewahan rasa dan suasana dalam bersantap. Bukan restoran mewah, bukan kafe mahal, bukan hotel berbintang. Mungkin warung di ujung desa, mungkin warung di pinggir sawah, mungkin tenda biru di tengah pinggir jalan. Disanalah saksi kehidupan. Saksi kerja keras, keluh kesah, caci maki dan semua tentang kehidupan. Oh, indahnya!
Rasa rindu kampung halaman bagi para jelata perantau dapat diobati dengan menikmati kuliner khas daerah asalnya. Jangan heran apabila anda akan menjumpai aneka makanan khas dari berbagai daerah di kota-kota besar. Tidak hanya di kota besar, nun jauh di timur sana, ketika kerinduan akan kampung halaman memuncak, jajanan khas daerah mampu mengobati rasa rindu itu. Anda tidak percaya? Cobalah bertanya kepada tukang pajek nan dermawan ini!
Urusan makan bisa juga dibarengkan dengan kencan. Jangan heran ketika anda mendapati sepasang mahkluk entah sesama jenis atau berlainan jenis sedang duduk mojok di sebuah warung. Entah warung yang terang benderang atau warung nan remang-remang. Kencan kuliner, istilah yang disampaikan oleh seorang blogger yang gemar mengupil ini dari Tangerang. Tidak main-main, kencan kulinernya sampai bersambung menjadi dua bagian. Kencan pertama dimulai dengan menyeruput aneka minuman dingin, kemudian kencan kedua ditutup dengan sensasi ah uh ah uh kepedesan.
Kencan kuliner juga terjadi di Malang. Sensasi pecel Madiun yang ada di daerah Tlogomas menjadi saksi cinta makelar themes nan jutawan ini. Sedangkan warung Bu Haji di kawasan Sawojajar justru menjadi ajang masyuk pasangan bloger yang sering bernasib mujur ituh. Bagaimana dengan yang jomblo? Yah menikmati ayam goreng ngerock seorang diri saja sudah cukup baginya. Nostalgia masa sekolah di Malang menjadi lebih nikmat bila dibarengi dengan “reuni kuliner” ala ibunya Cecil ini. Maknyusss katanya…
Masih banyak aneka polah tingkah rakyat jelata ketika menikmati sajian kulinernya. Ada yang makan sambil pijat, ada yang sambil ngelirik SPG nan imut dan cantik bak Miyabi.
Hebohnya sang sultan nan hartawan itu juga masih mau menyantap makanan rakyat jelata. Padahal kini beliau telah tinggal di apartemen nan mewah. Kabarnya juga beberapa saat lagi bakal mengakhiri keperjakaannya ituh. Beliau juga sempat memperkenalkan gadis pujaannya sebagai “nona manis berlirikan mata dahsyat” itu. Anda penasaran, silahkan lihat disini!
Anda ingin berbagai liputan kuliner jelata dan [mungkin] bangsawan, coba tengoklah disini!
Semua foto diatas murni dicomot dari blog paserta lomba.

